Ayam sebagai bahan dasar masakan tentu sangat digemari oleh setiap orang, hanya di goreng saja ayam terasa sudah enak untuk dimakan. Bagaimana jika ayam di olah menjadi hidangan yang menarik sebagai contoh ayam goreng yang di geprek dengan tambahan sambal diatasnya yummy…

Beberapa kuliner berbahan dasar ayam yang Anda sering jumpai tanpa sadar ternyata sudah menjadikan beberapa orang sukses menjadi pengusaha bisnis di bidanng kuliner ayam. Belajar dari 7 pengusaha ini kini gerainya sering Anda jumpai pastinya di beberapa tempat atau bahkan di pelosok-pelosok daerah. Kuliner ayam memang menjadi menu favorit masyarakat Indoensia, selain enak tentu mudah di olah serta diperoleh.

Bagi Anda yang memiliki rencana memulai bisnis kuliner berbahan dasar Ayam tentu bisa mencotoh pengalamannya dari 7 pengusaha sukses berikut ini.

Ayam Bakar Wong Solo

Siapa yang tidak kenal dengan rumah makan Ayam Bakar Wong Solo yang didirikan oleh Puspo Wardoyo, yang merupakan seorang Guru yang banting stir menjadi penjual ayam. Kisah suskes Ayam Bakar Wong Solo dilali dengan berjualan di pinggir jalan serta makian dari sang mertua.

Ayam Bakar Wong Solo pertama kali dibukanya dengan konsep warung kaki lima di daerah Bagan Siapi-api Sumatera Utara tepat dibelakang Bandara Polonia Medan.

Diawal perjalanannya warung Ayam Bakar Wong Solo berjalan sempoyong dan hanya berhasil menjual 7 ekor ayam dengan omset Rp.35 ribu/hari. Apalagi saat hujan datang ayam-ayamnya tidak laku. Puspo mengelola usahannya dengan sangat jujur dan berkomitmen, ia pantang menjual ayam sisanya keesokan harinya dan pentingnya menjaga kualitas dagangan. Lagi pula, warungnya maksimal menjual 7 ekor dengan omset Rp 35 ribu/hari.

Kesuksessan Ayam Bakar Wong Solo berawal dari sedekahnya pada pembantunya sendiri yang membutuhkan uang cepat untuk membayar sewa rumah senilai Rp. 800.000, padahal saat itu Puspo hanya memiliki uang Rp. 1,3 juta yang sebenarnya dialokasikan untuk modal usaha ayam bakarnya. Kata hatinya untuk menolong pembantunya siapa sangka menjadi awal kesuksesannya. Pembantunya mengenalkan Puspo dengan wartawan harian Waspada Medan. Obrolan dengan si wartawan ternyata jadi headline koran ini dengan judul Sarjana Buka Ayam Bakar Wong Solo yang terjadi tahun 1992. Keesokan hari atau setelah headline tersebut, ratusan pelanggan mendatangi warungnya. Seratus potong ayam ludes terjual hari itu dan terus meningkat hingga 200 potong pada hari-hari berikutnya. Omset juga ikut membubung menjadi sekitar Rp 350 ribu/hari. Momen ini sekaligus menyadarkan Puspo bahwa publikasi dan promosi penting untuk kemajuan usaha.

Ayam Bakar Wong Solo pun terkenal di seantero Medan. Langkahnya semakin tak tertahankan dengan membuka cabang-cabang baru di setiap konter food bazaar Matahari. Berbagai variasi juga dilakukan dengan menu tambahan seperti gado-gado dan berbagai makanan khas Jawa. Karyawannya membengkak menjadi 24 orang. Meskipun telah terkenal hingga ke pelosok Nusantara, Puspo terus waspada agar pelanggannya tidak bosan. Caranya dengan membuat berbagai variasi menu, selain kualitas harus unggul dibanding lainnya. Saat ini, ia menyediakan 50 lebih menu makanan dan 20-an menu minuman. Pelanggan RM Ayam Bakar Wong Solo akan selalu menikmati sajian yang segar serta bumbu masak jaminan terbaik. Agar pelayanan selalu yang terbaik, Puspo sedikit “cerewet” dengan membuat standardisasi bumbu, pelayanan dan desain interior-eksterior rumah makannya. Semua bumbu dibuat di Medan sebelum didistribusi ke seluruh cabang. “Saya pantang menggunakan bahan pengawet,” ujarnya.

Ayam Bakar Mas Mono

Pramono sebagai pendiri Ayam Bakar Mas Mono di tahun 19999 dengan memiliki puluhan cabang gerai ayam bakarnya yang kin menjadi usaha freinchise yang menjajikan. Pramono yang awalnya seorang Office Boy di sebuah perusahaan swasta memang selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar computer di waktu luang. Alasannya adalah dengan menguasai keterampilan itu kariernya bisa naik dan gajinya juga akan lebih besar. Berbekal ilmunya karirnya pun semakin meningkat dengan melangkah menjadi supervisor sebuah perusahaan.

Namun meski jabatannya cukup tinggi tapi dia terus tertantang untuk meningkatkan taraf hidupnya, terutama membahagiakan keluarganya. Dengan langkahnya yang ekstrim Pramono pun resigned dari tempatnya bekerja dengan memulai usaha berjualan gorengan keliling di wilayah Pancoran Jakarta Selatan.

Senada dengan Puspo sang Ayam Bakar Wong Solo, Pramono pun banyak mengalami cacian atau makian dari saudaranya karena tidak terima dengan keputusannya. Apalagi di awal awal berdagang omzetnya baru Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per hari. Meskipun demikian ia tidak mundur sedikitpun, malah melebarkan usahanya dengan menyewa sebuah lapak di sebrang Universitas Sahid dengan membuka usaha ayam bakar bermodalkan Rp. 500.000. Namun karena belum mahir mendorong gerobak, pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam tersebut harus dibersihkan dulu.

Terlepas dart peristiwa buruk yang dialami oleh Pramono beberapa tahun kemudian usaha ayam bakarnya berkembang Pesat dengan Nama Ayam Bakar Mas Mono. Kini gerai Ayam Bakar Mas Mono sudah ditemui di beberapa kota-kota Indonesia dan hampir 1000 ekor lebih ayam yang terjual setiap harinya. Yang menarik dari Ayam Bakar Mas Mono adalah konsep marketing tempat makan yang dipenuhi oleh foto-foto para artis terkenal dan disertai tanda tangan yang rata-rata mengatakan “ayam bakar mas mono uenak tenan..”, diantaranya Cut Tari, Indy Barens, Indra Bekti, Aming, Ello, Ferry Salim, Uya Kuya, dan masih banyak lagi artis yang pernah makan ditempat tersebut.

Ayam Geprek Bensu

Berbeda dari pengusaha lainnya yang memutuskan resigne dan memulai resiko berjualan kuliner ayam. Yang baru dari sebuah bisnis ayam goreng yaitu Ayam Geprek Bensu yang dimiliki oleh artis Ruben Onsu. Ide berbisnis ayam geprek tercetus dari kebiasaan Ruben Onsu membeli telur dari peternak ayam yang ia bantu. Niatnya hanya membantu para peternak dengan mengajak mereka berdiskusi dan menyepakati Ruben akan membeli ayam peternak itu untuk membuat usaha ayam geprek. Ia berfikir jika ayam goreng adalah makanan favorit masyarakat Indonesia. Apalagi disantap pakai sambal, sangat menggoda selera.

Gerai pertamanya yang berlebel Geprek Bensu dibuka di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, Maret 2017. Tidak besar namun cukup untuk menampung bahan baku dan karyawan yang berjumlah 5 orang. Tak disangka pada hari pertama pembukaan gerai hampir 100 potong ayam habis terjual pada pukul 2 siang, berlanjut kesekokann harinya hampir 400 ekor ayam terjual setiap harinya. Padahal Ruben hanya memanfaatkan nama besarnya sebagai artis dalam mempromosikan Gerai Ayam Geprek Bensu melalui promosi gratis di media sosila Instragram. Kini gerai Ayam Geprek Bensu sudah bisa Anda temui di berbagai kota besar di Indonesia.

Friencishe Ayam Sabana Fried Chicken

Anda tentu pernah melihat atau mencicipi jenis ayam fried chicken yang dijual di sebuha gerai gerobak bernama Ayam Sabana, bagaimana dengan rasanya? Tak kalah tentunya untuk rasa dengan para penjual ayam fried chicken merek terkenal. Dan kini sudah ada 200 gerai freinchise Ayam Sabana.

H. Syamsalis memulai usaha ayam dibidang fried chicken secara frienchise ide awal muncul akibat keprihatinan pendirinya akan kualitas ayam goreng yang kerap dikonsumsi masyarakat. Menurutnya, banyak sekali gerai ayam goreng yang tidak jelas standar kesehatannya, cara pemotongan, dan cara pengolahannya. Maka ia menciptakan ayam fried chicken dengan standar produk ayam sehat, berkualias dan proses pemotongannya yang dijamin halal.

Gerai Sabana Fried Chicken pertama kali di bukanya di kawasan Pondok Gede kota Bekasi. Konsep pengelolaan ayam berdasarkan syariat Islam menjadi acuan utamanya. Dengan ide dan rasa prihatin tersebut, beliau mendorong jiwa kewirausahaannya untuk mencoba bisnis ayam goreng ini. Ternyata, penilaian beliau tidaklah salah karena Sabana terbukti menjadi sebuah bisnis yang diterima dengan baik oleh masyarakat.

Kini Sabana telah menjadi salah satu brand waralaba fried chicken paling populer, dengan lebih dari 2.000 gerai yang tersebar di 11 provinsi di Indonesia. Kelebihan dari waralaba ini adalah modalnya yang minim karena berada pada level booth saja.Selain itu, H. Syamsalis mengutarakan bahwa ia selalu mengutamakan hubungan yang terjalin erat dengan sejumlah ulama di Indonesia guna menghadirkan produk ayam goreng kualitas nomor satu.Tidak berhenti sampai di situ, Sabana Fried Chicken juga terus berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai standar produk halal meski telah memperoleh sertifikat halalnya.

Ayam Gepuk Pak Gembus

Kuliner ayam fenomenal saat ini yang juga memiliki gerai frienchise hampir di seluruh wilayah Jawa dimiliki oleh pengusaha bernama Rido Nurul Adityawan. Awalnya gerai Ayam Gepuk Pak Gembus yang dimiliki olehnya masih belum berkembang karena sehari hanya 3-4 ekor ayam yang terjual. Ia membesarkan bisnis ayam gepuk berawal dari tekadnya untuk banting setir dari karyawan menjadi pengusaha. Ia meyisihkan gajinya selama bekerja di sejumlah perusahaan. Gaji Rido sebagai staf di MNC Sky Vision, misalnya, yang sebesar Rp 6 juta/bulan, rutin disisakan untuk menambah modal usaha. Ia berhenti sebagai karyawan ketika modalnya terkumpul Rp 26 juta. Modal kerjanya ini untuk membeli beragam kebutuhan, seperti tenda, gerobak dan kursi. Ia memilih usaha kuliner karena hobi memasaknya serta menikmati aneka macam kuliner bercitarasa pedas.

Bisnisnya utamanya yang berlokasi di Jalan Pesanggrahan, Jakarta Barat. Warung kaki lima itu seluas 3 X 4 m2, baru berkembang di bulan keenam dengan berhasil menjual 12 ekor ayam setiap harinya, hingga kini ia berhasil menjual 4.6 ton ayam/hari dari usaha mewaralabakan Ayam Gepuk Pak Gembu dan tentiu omsetnya pun meroket.

Cara marketing yang dipilih oleh Rido adalah konsep bisnis waralaba atau frienchise sama dengan Ayam Sabana Fried Chicken. Ia menyodorkan proposal bisnis waralaba Ayam Gepuk Pak Gembus ke salah satu pelanggan setianya. Setelah kedua pihak saling sepakat, warung waralaba Ayam Gepuk Pak Gembus dibuka untuk pertama kali di kawasan Mangga Besar dan Kebon Sirih, Jakarta. Ketika itu, pemegang waralaba menyerahkan dana senilai Rp 15 juta kepada Rido. Untuk memancing minat pembeli waralaba lainnya, ia mempromosikan sistem waralaba Ayam Gepuk Pak Gembus di banner. Saat ini, jumlah cabang Ayam Gepuk Pak Gembus mencapai 281 gerai yang tersebar di Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi (Jadetabek), Lampung, Medan, Makassar, Manado, Surabaya Jambi dan Palembang. Jumlah cabang di Jadetabek adalah yang terbanyak, yaitu 214 unit. Citarasa ayam gepuk dibuat seragam karena Rido memiliki tim pengontrol kualitas yang beranggotakan delapan orang. Ia juga menyediakan pelatih untuk meningkatkan keterampilan SDM di cabang.

Menarik tentunya untuk Anda mulai pelajari cara berbisnis dari mulai marketing dan ide yang dipilih oleh kelima pengusaha di bidang kuliner ayam. Kesemuannya tentu memiliki komitmen dan resiko yang tinggi dari keputusan yang diambilnya. Mengapa karena kesemuanya rata-rata mereka adalah sosok pegawai kantor yang keluar dari perusahaan tempat mereka bekerja dan berani mengambil resiko untuk resigne, untuk kemudian memulai usaha. Yang terpenting dari artikel ini adalah usaha bisa dimulai dengan action Anda dalam memulainya, karena setelahnya Anda akan pintar untuk mengelola dan memulai strategi-strategi baru dari usaha Anda.