Ibu Risma sosok walikota Surabaya wanita yang memiliki banyak inspirasi bagi para wanita Indonesia. Ibu Risma didapuk menjadi walikota Surabaya dengan masa jabatan 2010-2015 dan di hingga saat ini. Ibu Risma merupakan walikota pertama wanita di Surabaya sepanjang sejarah dari Kota Surabaya. Dalam sumber Wikipedia.org Ibu Risma juga tercatat sebagai wanita pertama yang dipilih langsung menjadi wali kota melalui pemilihan kepala daerah sepanjang sejarah demokrasi Indonesia di era reformasi dan merupakan kepala daerah perempuan pertama di Indonesia yang berulang kali masuk dalam daftar pemimpin terbaik dunia.

Belajar dari sosok Ibu Risma sebagai wanita yang tanggung sebagai seorang pemimpin.

Menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan & Pertamanan Kota Surabaya

Awal karir ibu Risma sebelum menjabat sebagai walikota Surabaya beliau menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya dan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya (Bappeko) hingga tahun 2010. Ibu Risma meniti kariernya sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS) Kota Surabaya sejak dekade 1990-an. Saat menjabat sebagai Dinas pertamanan beliau banyak menata area pertamanan dan menjadikan kota Surabaya terlihat lebih hijau dan segar. Ibu Risma menyukai tanaman dan keindahan serta kebersihan, maka banyak perubahan area kota seperti taman selama beliau menjabat.

Memiliki background pendidikan sebagai arsitek dan pembangunan kota

Ibu Risma memiliki background pendidikan S1 dalam arsitektur dan S2 Magister dalam bidang Managemen Pembangunan kota di kampus Institute Teknologi Sepuluh November. Dengan background pendidikan yang beliau memiliki maka semakin memuluskan karirnya pada bidang tata kota di Surabaya selama memimpin sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Terbukti sejak menjabat sebagai Walikota Surabaya ibu Risma melahirkan berbagai area wisata taman yang bisa dinikmati gratis oleh para warga Surabaya atau diluar Surabaya.

Rela meninggalkan keluarga sementara demi sumpahnya untuk Negara

Seorang ibu Risma sebelum menjabat sebagai seorang walikota sempat berdiskusi pada suami mengenai karirnya yang akan maju sebagai walikota Surabaya, beruntung beliau disupport oleh sang suami karena tujuannya untuk membantu dan menolong masyarakat. Semenjak diangkat menjadi seorang walikota Surabaya beliau bersumpah akan mendahulukan kepentingan Negara, dan karena sumpahnya tersebut ibu Risma menomorduakan urusan keluarga. Seperti saat diundang sebagai bintang tamu di acara Ini Talk Show Net TV beliau pernah menceritakan ketika anaknya sakit beliau tidak bisa merawat anaknya dan saat banjir melanda di beberapa wilayah kota Surabaya pada saat itu beliau sedang melakukan makan malam bersama keluarga, beliau rela pergi meninggalkan makan malam bersama keluarga demi melihat warganya yang terkena banjir. Itulah sosok Ibu Risma dalam menepati janjinya pada Negara.

Rela mati saat menutup Gang Dolly demi peradaban yang baik di kota Surabaya

Gang Dolly kita tahu meruapakan lokalisasi terbesar di Indonesia, saat ibu Risma menjabat beliau memiliki keinginan kuat menutup Gang Dolly sebagai lokasi untuk pelacuran. Keputusan menutup Gang Dolly sepertinya ibu Rimsa sudah tahu akan banyak pro dan kontra serta terror akan menghampiri dirinya atau keluarga. Maka sebelum pergi menutup lokalisasi Gang Dolly beliau berpesan kepada anak dan suaminya untuk jangan menuntut siapapun jika saya meninggal setelah menutup Gang Dolly. Ibu Risma memiliki alasan mengapa Gang Dolly harus ditutup yaitu beliau ingin membangun peradaban manusia yang baik dalam berperilaku sesuai norma sosial. Beliau datangi satu per satu warga di Gang Dolly. Dengan lembut, ia undangan para ‘penggiat’ pelacuran di Surabaya dan berbincang lama dengan para korban serta pelaku prostitusi. Beliau curahkan emosi keibuan dalam dirinya, tentang alasan meningkatkan peradaban manusia yang lebih baik dimulai dari kota Surabaya ini dan ini sebagai kepentingan rakyat.

Mencontoh Umar Bin’Khattab dalam memimpin

Ibu Risma ingin mencontoh Umar bin Khatab dalam memimpin. Yakni pemimpin yang tahu persoalan rakyatnya, terutama mereka yang  miskin dan papa. Menjadi seorang pemimpin di kota Ibu Risma merasa perlu mengunjungi satu per satu orang miskin di kampung-kampung kota. Memasuki lorong-lorong kota, walau wartawan yang menyertainya tak seramai gemerlah Ibu Kota. Di carinya anak-anak miskin agar bisa sekolah, hingga Sarjana, Master, bahkan hingga Doktor. Kini Ibu Risma menugaskan hal tersebut kepada Dinas Sosial untuk mendata warga yang miskin dan jumlah bantuan yang harus dianggarkan.

Menolak membangun Jalan tol Surabaya

Dimana setiap pengendara mobil merasa bahwa jalan tol adalah salah satu solusi mengatasi kemacetan, ternyata ibu Risma menganggap bahwa jalan tol bukanlah solusi meneyelesaikan kemacetan. Beliau merasa jika jalan Surabaya adalah milik warga Surabaya dan bebas gratis dilewati mengapa harus membayar melewati jalan. Menurutnya penyelesaian kemacetan adalah dengan membangun sebuah akutan massal yang cepat dan nayaman untuk memudahkan warga Surabaya sampai ke tujuan, maka tidak diperlukan pembangunan jalan tol menurutnya. Risma mengaku berencana membangun monorel karena lebih fleksibel. Selain wilayah pembangunan monorel lebih sempit, biayanya juga murah. Beliau juga menegaskan gagasan Pemkot Surabaya ini untuk menjadi solusi puluhan tahun ke depan. Pembangunan jalan tol justru dianggap tak mampu menyelesaikan kemacetan. Bahkan di negara-negara lain, jalan tol banyak yang dihancurkan karena kurang efektif.

Dengan apa yang dilakukan oleh sosok Ibu Risma sebagai pemimpin tentunya bisa menjadi bahan pembelajaran kita atas keberaniannya, ketegasannya, keihklasan dan kesabarannya yang membuatnya menjadi seorang pemimpin yang tangguh dan kuat. Sosok kewanitaannya banyak memberikan hal-hal positif dalam membangun peradaban di kota Surabaya. Seperti pembelajaran yang bisa kita lihat bagaimana cara beliau melakukan pendekatan pada warganya untuk menutup Gang Dolly sebuah lokalisasi besar dan sudah mengakar.

Inspirasi menarik yang disampaikan sosok ibu Risma adalah tentang pentingnya keteladanan dan pendekatan kemanusiaan dalam kepemimpinan. Beliau berpendapat rakyat selalu membutuhkan  keteladanan dari pemimpin dan pendekatan manusiawi. Maka pantaslah sosok Risma menjadi inspirasi bagi kaum wanita yang memimpin di sebuah perusahaan atau pemerintahan memimpin dengan konsep pendekatan manusiawi.