Halo para pembaca tulisan Vondanote di rubrik news kali ini penulis mau sedikit bagi-bagi cerita pengalaman seputar kelahiran anak pertamaku empat tahun lalu yang saya beri nama Atthallah Putra Hardiyanto.

Alhamdulillah akhirnya saya diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk menjadi seorang ibu dengan kelahiran putra pertama bernama Athallah Putra Hardiyanto tepat di hari Minggu tanggal 19 April 2015. Al nama panggilannya terlahir dengan normal, dengan berat 3.45Kg dan panjang 49cm.

Kelahiran dengan proses normal merupakan harapan saya selama proses kehamilan, dan alhamdulillah saya bisa melahirkan normal alami tanpa proses induksi serta vakum. Merasa sempurnalah sudah kehidupan rumahtangga saya dengan kehadirannya. Selama proses mengandung untuk pengcekkan rutin hingga proses melahirkan saya dan suami memilih RSUD Bhakti Yuda di daerah Depok, ini berdasarkan informasi teman-teman kantor suami yang para istrinya melahirkan di rumah sakit tersebut. Dan menurut saya memang recommended banget untuk Anda yang ingin melahirkan secara normal dengan kualitas baik dan harga terjangkau jika tidak menggunakan asuransi/jaminan.

Bagaimana Pengalaman Saya Menunggu & Persiapan Melahirkan?

Berbeda dari yang lainnya jika mengandung anak 9 bulan lebih akan menemui tanda-tanda melahirkan, namun saya menunggu kelahiran Al yang begitu lama didalam perut yaitu 10 bulan 1 hari. Terbayang rasa lelah mengandungnya yang bercampur rasa panik karena Al tidak menunjukkan respon atau tanda-tanda akan lahir.

Tepat usia kandungan saya 9 bulan 20 hari belum ada tanda-tanda seperti pembukaan atau bercak darah, hanya mules-mules seperti biasa dan belum teratur. Dengan semangat setiap hari saya rutin melakukan jalan kaki selama 2 jam, yang kata orang bisa merangsang untuk membuka jalan si bayi. Kemudian mengepel dan mengosrek kamar mandi sambil berjongkok. Semua saya lakukan dengan harapan bayi mau merespons untuk keluar dan menunjukkan tanda-tanda kelahiran.

Memasarhkan semua kepada yang Maha Menciptakan dan Mengabulakn doa hambanya. Sayapun setiap selesai sholat selalu berdoa agar Al mau keluar dan mencoba berbicara dengannya diperut agar mau keluar. Semua tips ini saya lakukan berdasarkan pengalaman dan informasi dari saudara atau teman. Anehnya semua saya lakukan berdasarkan saran teman atau saudara, bukan atas anjuran dokter kandungan saya. Baru terpikir setelah melahirkan oleh saya  jika selama konsultasi ke dokter, dokter tidak pernah menyarankan apalagi menyuruh untuk melakukan aktifitas jalan kaki atau mengepel lantai sambil berjongkok. Dokter kandungan saya cuma bilang kita hanya bisa menunggu responnya dari si bayi, dan ada satu pembicaran temen yang saya ingat saat itu “kalau belum waktunya lahir si bayi juga ngga ngerespon kali, jadi tunggu aja”. Saat itu saya sadar jika kelahiran adalah takdir Allah maka saya berusaha pasrah dan ikhlas pada sang Pencipta, ditengah kepanikan menjelang 40 minggu usia kandungan yang belum menunjukkan tanda-tanda kelahiran si bayi.

Karena saya bersih keras untuk bisa melahirkan normal, maka saya selalu menjaga kestabilan dan kesehatan tubuh selama masa kehamilan, apapun nasehat dokter selalu saya ingat dan lakukan. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan dokter yang nyaman untuk diajak sharing dan sabar dalam menghadapi saya yang kebetulan banyak bertanya ketika melakukan kontrol kehamilan. Ditambah support suami yang selalu menjaga saya dengan makanan yang sehat selama masa kehamilan.

Sudah di titik pasrah ketika tanggal HPL tiba yaitu 18 April 2015 dan tepat jadwal kontrol kehamilan ke dokter kandungan. Pada saat itu usia kandungan saya tepat 40 minggu menurut perhitungan dokter. Melakukan cek dalam ternyata belum ada tanda-tanda pembukaan kelahiran, akhirnya dokter menyarankan untuk melakukan induksi dan sekaligus pesan kamar bersalin. Sempat saya menanyakan ke dokter bagaimana jika dari induksi bayi tidak merespon juga, dengan tegas dokter bilang “Ibu harus Sesar” hoooo… semua pikiran tentang harapan melahirkan normal pudar. Dalam hati saya hanya berucap bismillah jadikan yang terbaik untuk saya dan anak saya. Kembali lagi memang semua sudah Allah rencanakan yang terbaik untuk umatnya, termasuk takdir melahirkan dengan cara normal atau sesar. Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan induksi tanggal 20 April 2015, dan dokter masih sempat memberikan semangat saya dengan kata-kata “serahkan semua sama Allah dan masih sempet bilang ibu puas-puasin jalan-jalan dulu sebelum induksi ya”. Alhamdulillah dapet semangat dari dokter…hehehehe. Keluar dari ruangan dokter, saya dan suami segera ke bagian administrasi untuk melakukan reservasi kamar bersalin dan kamar perawatan untuk tanggal 20 April 2015.

Pulang kerumah masih berharap ada keajaiban untuk saya bisa melahirkan normal tanpa induksi. Sampai dirumahpun saya masih menyempatkan jalan kaki lagi selama 2 jam tanpa berhenti dengan harapan akan ada keajaiban. Malam masih saya sempatkan melakukan komunikasi dengan si bayi di dalam perut mengajaknya untuk keluar. Hehehe…….semangat deeh pokoknya saat itu. Merupakan hal yang aneh tapi menyenangkan dan akhirnya sayapun tidur bersama suami. Sebenarnya tidurpun sudah sulit dan gelisah karena kontraksi kecil si bayi yang selalu datang. Tapi anehnya ketika jam setengah 2 malam saya mendapati kontraksi yang berbeda dari kontraksi biasanya. Saya bangun dan berjalan kecil-kecil, anehnya kontraksi ini luar biasa sakitnya dan konstant setiap 15 menit dan terus mengecil menjadi setiap 10 menit. Tepat hari Minggu 19 April 2015 pada waktu subuh saya dan suami akhirnya memutuskan untuk ke rumah sakit, untuk melakukan pengecekan apakah ada tanda-tanda kelahiran pada bayi. Saya dan suami menggunakan sepedah motor ke rumah sakit, kebayang setiap 15 menit sekali kontraksi muncul kami harus berhenti berjalan. Sesampainya di rumah sakit kami dapati suasana sepi karena hari minggu dan tanggal merah ternyata Rumah Sakit tersebut tutup. Sampailah saya di ruang UGD, dan segera dilakukan pemeriksaan dalam oleh bidan rumah sakit tersebut. Setelah diperiksa pihak bidan ternyata sudah terjadi pembukaan 2 pada kandunganku. Hooo Alhamdulillah akhirnya si bayi menunjukkan tanda-tanda akan lahir. Saya dan suami pun mengcap syukur dan bersemangat menunggu kelahiran bayi kami..

Saya pun dipindahkan ke ruang persalinan tepat jam 10 pagi dan sudah terjadi pembukaan 3 namun kontraksi masih konstan tiap 10 menit sekali, dan Alhamdulillah masih sempet jalan-jaln kecil biar mempercepat kelahiran. Wooww rasanya memang luar biasa, apalagi kontraksi yang dirasakan depan belakang karena bayi saya laki-laki.

Tepat jam 5 kontraksi semakin sakit dan sudah berganti dengan baju persalinan. Jam setengah 6 sore air ketuban pecah, kontraksi semakin cepat menjadi 3 menit sekali. Tepat jam setengah 7 malam posisi si bayi udah diujung dan sudah pembukaan 8. Tepat jam 7 dan pass banget azan isya bayi-ku lahir Subhanallah.

Alhamdulillah saya bisa melahirkan normal alamiah tanpa induksi dan vakum, semua sesuai dengan doa serta harapan saya. Saya dan suami mengucap syukur kepada Allah karena engkaulah yang mempermudah semua proses kelahiran putra kami. Amin..

Putraku bersama dokter kandunganku

Ini dia ruang perawatan saya setelah proses persalinan yaitu di ruang Aster No. 309 RSUD Bhakti Yuda. Ruangan yang saya pilih adalah kelas tiga, pemilihan ruangan disesuaikan dengan budget melahirkan yang telah kami siapkan. Alhamdulillahnya saya mendapatkan ruang kelas tiga tetapi seperti VIP room kenapa ? karena dua bangsal di kamar saya kosong alias tidak ada pasien yang menginap. Alhasil ibu mertua dan adik ipar saya diperbolehkan oleh suster rumah sakit untuk mengisi bangsal di sebelah bangsal saya, selama bangsal tersebut kosong. Hehehe….alhamdulillah masih dipermudah sama Allah lagi.

Terimakasih untuk suamiku yang setia menemani kami saat proses melahirkan. Terima kasih kepada dr. Ari Kusuma Januarto Sp.OG, suster Maya serta para bidan yang telah sabar dalam membantu dalam masa kehamilan hingga proses kelahiran anak pertama saya.

Semoga Allah senantiasa membalas semua kebaikan kalian.