Anak Bertanya
Picture By: https://www.babycenter.com/

Bagi yang memiliki buah hati dalam masa-masa batita atau balita, tentunya akan mengalami masa-masa harus sering menjawab berbagai pertayaan yang dilontarkan si kecil. Pertanyaan yang dilontarkan pun beragam. Ada yang bertanya nama hewan sampai dengan pertanyan-pertanyaan seputar kenapa begini dan begitu.

So, normalkah hal tersebut?

Well, pada usia-usia tertentu, anak-anak memang tumbuh dengan berbagai macam fase yang salah satunya adalah apa yag dikenal dengan istilah “why” phase atau fase “kenapa.” Fase satu ini, otak anak mulai berkembang sangat pesat dan rasa ingin tahunya pun cukup besar tentang segala sesuatu yang didengar atau dilihatnya.

Menurut banyak penelitian, justru dalam fase ini, anak-anak yang tidak banyak bertanya dan bawel justru patut dikhawatirkan karena tergolong tidak sehat dalam sisi kognitif dan perseptualnya. Memang banyak orang dewasa atau orang tua akan capek ketika si kecil terus menerus bertanya ini dan itu, akan tetapi hal tersebut adalah sesuatu yang wajar dan sehat.

Bahkan, tergantung dengan kebiasaan orang tua atau sekitarnya, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan anak juga didasarkan dengan hal tersebut. Contohnya saja adalah ketika orang tua atau orang-orang dewasa di sekitarnya sering memasak, maka pertanyaan yang muncul pun akan seputar masakan dan semua nama-nama peralatan dapur atau bahan makanan yang dia lihat.

Bahkan terkadang, pertanyaan yang diajukan pun sulit untuk dijelaskan secara gamblang kepadanya karena keterbatasan informasi, ketidaktahuan sampai dengan orang tua yang bersangkutan tidak memiliki cukup kosakata untuk dapat menkonversi kata-kata rumit ke bahasa yang lebih mudah untuk dicerna anak.

Anak Bertanya Ke Orang Tua
Picture by: https://blog.kinedu.com/

Perkembangan otak dan fase tersebut akan terjadi pada usia 2 sampai 3 tahun dan kemudian berlanjut lagi pada usia 4 sampai 5 tahun. Ketika sang anak tidak mendapatkan jawaban atau bahkan dimarahi karena terus bertanya, maka dia justru akan memiliki persepsi yang bermacam-macam dan membuatnya menjadi tidak percaya diri.

Walaupun terkadang capek harus menjawab satu persatu pertanyaan yang dilontarkan atau juga tidak tahu harus menjawab dengan bahasa yang lebih mudah, orang tua tetap diharapkan untuk dapat meladeni anak yang sedang dalam fase tersebut.

Selain dapat membangun rasa percaya diri anak dan juga kepekaannya, dengan terjadinya tanya jawab tersebut juga dapat membantu orang tua dan anak untuk membangun bonding yang lebih kuat dan mengajarkan banyak kosakata baru kepadanya. Dan lagi, ketika hal tersebut dilakukan secara nothing to lose, maka saat anak beranjak remaja atau dewasa, maka dia juga dapat lebih terbuka untuk membicarakan apapun ke orang tuanya.