menikah 1

Sebagai calon pengantin, tentu banyak sekali hal yang harus Anda persiapkan. Mulai dari lokasi gedung pernikahan, gaun pengantin, tata rias, sepatu, jas untuk calon suami, katering, bulan madu, dan masih banyak lagi. Namun Anda juga harus ingat untuk mempersiapkan mental saat akan menyongsong hari pernikahan yang kian dekat, karena yang terpenting adalah kesiapan Anda menjadi istri kelak dan menjalani hari-hari setelah pesta pernikahan usai bersama suami. Kami merangkum 9 hal yang dapat membantu Anda agar siap memasuki kehidupan yang baru dan bisa menghadapi semua pasang surutnya.

Mengubah ‘saya’ menjadi ‘kita’

Dalam sebuah pernikahan, tidak ada tempat untuk rasa egois. Setelah menikah Anda harus mulai mengubah cara pikir yang sebelumnya ‘saya’ menjadi ‘kita’. Hal ini bukan berarti Anda akan kehilangan jati diri sebagai seorang individu atau melupakan kebahagiaan personal, namun mulailah untuk melibatkan calon pasangan ke dalam rencana dan mimpi jangka panjang Anda. Pernikahan adalah sebuah kemitraan dan Anda berdua harus menjadi sebuah tim yang kompak. Maka ingat, kesampingkan ego serta rasa mementingkan diri sendiri mulai sekarang.

Belajar dari pasangan panutan Anda

Apakah Anda mengenal sosok pasangan yang pantas untuk dijadikan panutan karena senantiasa memberi contoh baik dalam menjalani pernikahan yang harmonis dan penuh komitmen? Jika iya, banyak-banyaklah belajar dari nya. Jangan ragu untuk bertanya tentang bagaimana mereka menghadapi perbedaan pendapat atau menyelesaikan pertengkaran, cara menyeimbangkan pekerjaan dan pernikahan, serta perhatikan cara memperlakukan satu sama lain, baik di saat susah maupun senang. Jadikan teladan mereka sebagai panduan dalam membangun rumah tangga yang langgeng dan awet.

Ikuti kelas atau kursus pranikah

Walaupun Anda merasa telah memiliki sedikit pengetahuan tentang kehidupan setelah pernikahan, tetapi tak ada salahnya untuk mengikuti kelas atau kursus pranikah agar wawasan semakin luas. Biasanya di kelas untuk calon pengantin ini akan memiliki pemimbing profesional atau pemimpin agama yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda seputar kehidupan setelah pernikahan. Aktifitas ini juga akan membuka pikiran Anda dan memberi berbagai tip praktis, yang bisa menjadi pelajaran untuk membantu Anda dalam mengatasi ketakutan atau kecemasan sebelum menikah. Berbeda dengan meminta saran dari keluarga atau teman, pemimbing kelas seperti ini biasanya lebih netral dan tidak memihak sehingga dapat memberikan Anda opini atau informasi yang obyektif.

Mulai menyesuaikan dan merencanakan keuangan

Akan ada perubahan yang cukup signifikan dari mengatur keuangan sebagai seorang lajang menjadi mengatur keuangan rumah tangga bersama dan berbagi aset dengan suami kelak. Terlebih karena isu uang adalah salah satu alasan utama penyebab perceraian. Hal yang sangat penting sekali bagi calon pengantin untuk mulai menyesuaikan dan merencanakan kehidupan finansial sebelum menikah. Lakukan bersama dengan calon pasangan Anda, diskusikan secara terbuka soal pendapatan, pengeluaran, utang piutang, aset dan investasi yang Anda berdua miliki, bahas juga rencana, impian, dan tujuan jangka panjang keluarga Anda kelak. Jika Anda berdua telah memahami kondisi keuangan masing-masing, mulailah mengubah kebiasaan Anda dalam mengatur uang menjadi seperti lebih rajin menabung, tidak berbelanja secara impulsif, atau tidak lagi menumpuk utang.

menikah 2 FILEminimizer

Membicarakan masalah anak

Anda tentu tahu bagaimana beberapa orang mulai menanyakan kapan Anda akan memiliki momongan, bahkan saat Anda baru saja mengucap janji pernikahan. Jika Anda tidak siap mental untuk membicarakan hal ini, terlebih jika Anda memang belum siap memiliki anak, maka pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mengusik dan membuat Anda merasa kesulitan. Cobalah untuk berdiskusi dengan calon pasangan tentang hal ini. Saat Anda dan pasangan sudah memahami keinginan masing-masing, akan lebih mudah untuk memutuskan kapan dan bagaimana keluarga Anda akan diarahkan dan tidak terlalu memusingkan tekanan dari pihak luar.

Belajar untuk memaafkan

Saling memaafkan adalah salah satu kunci dalam mencapai pernikahan yang bahagia, jadi mulailah berlatih untuk melakukannya. Menyimpan dendam pada pasangan hanya akan menyakiti dan membawa suasana negatif pada dalam hubungan suami dan istri, jadi cobalah untuk belajar memaafkan secara tulus dan mengambil hikmah dari permasalahan yang di hadapi. Dengan demikian Anda dapat saling belajar dari satu sama lain dan tumbuh bersama tanpa harus terpisahkan oleh kemarahan.

Mulai berfikir terbuka & fleksibel

Anda mungkin memiliki bayangan atau ekspektasi tertentu tentang kehidupan rumah tangga yang akan dibina kelak, tapi ingatlah untuk tidak selalu menuntut semua hal agar senantiasa sempurna. Tidak ada pernikahan yang tanpa cela dan setiap pasangan memiliki pasang dan surutnya sendiri. Yakinlah pada komitmen Anda dengan pasangan sehingga Anda tidak mudah menyerah saat dihadapkan dengan masalah rumah tangga nanti. Anda juga harus memiliki pemikiran yang terbuka dan fleksibel karena setelah menikah tentu akan ada banyak perubahan yang terjadi pada hidup, mungkin dalam bentuk yang tak pernah Anda sangka sebelumnya, jadi mulailah belajar untuk beradaptasi terhadap perubahan.

Bicarakan batasan-batasannya

Anda dan calon suami mungkin memiliki pemikiran, sudut pandang, keinginan dan kebutuhan yang berbeda, namun hal ini harus dibicarakan dan disesuaikan agar tidak menimbulkan masalah pada pernikahan Anda kelak. Tentukan batasan-batasan sikap Anda bersama dengan pasangan, apa yang boleh dan tidak boleh Anda lakukan?. Seperti contohnya apakah suami tetap boleh berkomunikasi dengan mantan kekasihnya? atau kapan Anda bisa pergi bersama sahabat? Apa yang sebaiknya tidak Anda ceritakan pada keluarga dan teman? Bicarakan secara menyeluruh dan sepakati batasannya bersama.

Bangun persahabatan dan belajar untuk tertawa bersama dengan pasangan

Cara terbaik untuk menjalani sebuah pernikahan adalah dengan saling menjadi sahabat bagi pasangan. Jangan hanya melihatnya sebagai sosok kekasih atau pemimpin Anda, tapi juga seseorang yang dapat Anda ajak berbicara tentang segala hal, tempat Anda berbagi kisah, impian, dan keluh kesah, serta membuat Anda merasa nyaman menjadi diri sendiri di hadapannya. Sama halnya seperti sepasang teman baik, belajarlah untuk menciptakan suasana positif di sekitar satu sama lain dan cobalah untuk tertawa saat ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai keinginan Anda. Dengan begitu Anda tidak akan cepat marah atau bersikap terlalu serius dalam menjalani kehidupan berdua kelak.